Woensdag 08 Mei 2013

Tori Kepemimpinan


         I.            TEORI KISI KEPEMIMPINAN (BLAKE DAN MOUTON)
            Kisi ini berasal dari hal-hal yang mendasari perhatian manajer perhatiannya pada tugas atau pada hal-hal yang telah direncanakan untuk diselesaikan organisasi, dan perhatian kepada orang-orang dan unsure-unsur organisasi yang memengaruhi mereka. Kisi ini menggambarkan bagaimana perhatian pemimpin pada tugas dan pada manusia berkelindan sehingga menciptakan gaya pengelolaan dan kepemimpinan. Kelima jenis gaya ekstrim yang dikemukakan model kisi disajikan secara singgat sebagai berikut :
a)      Gaya pengalah (impoverished style). Gaya ini ditandai oleh kurangnya perhatian terhadap produksi. Bila terjadi konflik, pemimpin jenis ini tetap netral dan berdiri di luar masalah.
b)      Gaya pemimpin pertengahan (middle-of-the-road style). Gaya ini ditandai oleh perhatian yang seimbang terhadap produksi dan manusia. Pemimpin dengan gaya ini berusaha untuk jujur tetapi tegas dan mencari pemecahan yang tidak memihak dan berusaha untuk mempertahankan keadaan tetap baik.
c)      Gaya tim (team style). Gaya ini ditandai oleh perhatian yang tinggi terhadap tugas dan manusia. Pemimpin tim amat menghargai keputusan yang logis dan kreatif sebagai hasil dari pengertian dan kesepakatan anggota organisasi. Bila terjadi konflik, pemimpin tim mencoba memeriksa alasan-alasan timbulnya perbedaan dan mencari penyebab utamanya. Pemimpin tim mampu menunjukkan kebutuhan akan saling mempercayai dan saling menghargai di antara sesama anggota tim, juga menghargai pekerjaan.
d)     Gaya santai (country club style). Gaya ini ditandai oleh rendahnya perhatian terhadap tugas dan perhatian yang tinggi terhadap manusia. Ia menghindari terjadinya konflik, tapi bila ini tidak dapat dihindari, ia mencoba untuk melunakkan perasaan orang, dan menjaga agar mereka tetap bekerja sama. Pemimpin ini lebih banyak bersikap menolong daripada memimpin.
e)      Gaya kerja (task style). Gaya ini ditandai oleh perhatian yang tinggi terhadap pelaksanaan kerja tetapi amat kurang memperhatikan manusianya. Bila timbul konflik, pemimpin jenis ini cenderung menghentikannya atau memenangkan posisinya dengan cara membela diri, bekerja pada pendiriannya, atau mengulangi konflik dengan sejumlah argumentasi baru.
            Menurut Blake dan Mouton, gaya tim merupakan gaya kepemimpinan yang paling disukai. Kepemimpinan gaya tim berasumsi bahwa orang akan menghasilkan sesuatu yang terbaik bilamana mereka memperoleh kesempatan untuk melakukan pekerjaan yang berarti. Serta melibatkan anggota organisasi dalam pengambilan ke[putusan, dengan maksud mempergunakan kemampuan mereka untuk memperoleh hasil terbaik yang mungkin dicapai.

      II.            TEORI KONTINUM (TANNEMBAUM DAN SCHMIDT)
            Tannenbaum dan Schmidt (1957) meneliti pengambilan keputusan sebagai konsep utama dalam kontinum perilaku kepemimpinan mereka. Ada tujuh butir yang menunjukkan sifat manajer-pemimpin mulai dari mereka yang mempertahankan tingkat pengendalian ketat sampai mereka yang melepaskan kendali pada bawahan. Kontinum tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut :
  1. Manajer membuat keputusan dan mengumumkannya
  2. Manajer membuat keputusan dan menawarkannya
  3. Manajer mengemukakan keputusannya dan memberi kesempatan untuk mempertanyakan
  4. Manajer mengemukakan keputusan sementara, yang masih dapat diubah
  5. Manajer menentukan beberapa batasan dan meminta bawahan untuk membuat keputusan
  6. Manajer mengizinkan bawahan membuat keputusan
Pemimpin yang paling efektif adalah emreka yang mempunyai gaya yang konsisten, sesuai dengan tuntutan situasi.
   III.            KEPEMIMPINA SPRITUAL
            Menurut Dr. Tobroni dalam “The Spiritual Leadership,…” (2005), adalah kepemimpinan yang membawa dimensi keduniawian kepada dimensi keilahian. Tuhan adalah pemimpin sejati yang mengilhami, mempengaruhi, melayani dan menggerakkan hati nurani hamba-Nya dengan sangat bijaksana melalu pendekatan etis dan keteladanan. Karena itu kepemimpinan spiritual disebut juga kepemimpinan yang berdasarkan etika religius dan kecerdasan spiritual, mendasarkan pada iman dan hati nurani.
            Ada dua model kepemimpinan spiritual yaitu kepemimpinan spiritual substantif dan kepemimpinan spiritual instrumental.
  1. kepemimpinan spiritual substantif, yaitu kepemimpinan spiritual yang lahir dari penghayatan spiritual sang pemimpin dan kedekatan pemimpin dengan realitas Ilahi dan dunia Ruh. Model kepemimpinan spiritualnya muncul dengan sendirinya dan menyatu dalam kepribadian dan perilaku kesehariannya dan karena itu bersifat tetap.
  2.  kepemimpinan spiritual instrumental, yaitu kepemimpinan spiritual yang dipelajari dan kemudian dijadikan gaya kepemimpinannya. Gaya kepemimpinan spiritualnya muncul karena tuntutan eksternal dan menjadi alat atau media untuk mengefekifkan perilaku kepemimpinannya. Gaya kepemimpinan spiritual instrumental bersifat tidak abadi dan sekiranya konteks kepemimpinannya berubah, maka gaya kepemimpinannya bisa jadi berubah pula. Gaya kepemimpinan ini bisa juga muncul sebagai salah satu cara untuk mengatasi permasalahan baik permasalahan internal sang pemimpin itu sendiri maupun permasalahan eksternal.
            Gaya kepemimpinan spiritual tidak hanya cocok diterapkan pada nobel industry (industri pengemban misi mulia), seperti lembaga-lembaga sosial non profit: sekolah, rumah sakit, masjid, LSM, ormas, dsb., tetapi juga cocok untuk diterapkan di lembaga-lembaga bisnis. Belakangan ini banyak pakar menulis, bahwa aspek spiritual menjadi penyumbang terbesar keberhasilan seseorang dalam hidupnya, termasuk di dalamnya kecerdasan spiritual (SQ), yang menurut Danah Zohar dan Ian Marshall (SQ: Spiritual Intelligence, the Ultimate Intelligence, 2000), memiliki andil 80 % dalam kesuksesan karir seseorang; dan kepemimpinan spiritual, yang menurut hasil penelitian Ian Percy (Going Deep: Exploring Spirituality in Life and Leadership, 2003), para direktur dan Chief of Excutive Officer (CEO) yang efektif dalam hidup dan kepemimpinannya memiliki spiritualitas yang tinggi dan menerapkan gaya kepemimpinan spiritual.
            Gaya kepemimpinan spiritual dalam membangun budaya organisasi dapat dilakukan dengan empat langkah:
1)      niat yang suci, yaitu membangun kualitas batin yang prima dalam memimpin. Dengan kualitas batin yang prima, komunitas organisasi akan memiliki perhatian penuh dan istiqomah dalam berkhidmat pada tugas masing-masing.
2)      mengembangkan budaya kualitas dengan cara membangun keyakinan inti (core believe) dan nilai inti (core values) kepada komunitas organisasi bahwa hidup dan kerja hakekatnya adalah idadah kepada Allah, maka harus dilakukan dengan sebaik-baiknya (ahsanu ‘amala).
3)      mengembangkan persaudaraan (ukhhuwah) sesama anggota komunitas, sehingga kerjasama, sinergi antar individu dan kelompok/unit dalam organisasi dapat tercipta untuk memberdayakan potensi dan kekuatan secara maksimal.
4)      mengembangkan perilaku etis (akhlaqul karimah) dalam bekerja melalui pembudayaan rasa syukur dan sabar dalam mengemban amanah.
Untuk mengefektifkan proses organisasi dapat dilakukan dengan pendekatan etis, pemakai gaya kepemimpinan spiritual harus menjadi:
a)      murabbi (penggembala) dalam mengembangkan kepemimpinan dan tanggung jawab
b)      penjernih dan pengilham dalam proses komunikasi dan inovasi
c)      ta’mir (pemakmur) dalam mensejahterakan bawahannya;
d)     enterpreneur dalam kiat-kiatnya mengembangkan usaha;
e)      pemberdaya dalam mengembangkan kepemimpinan bagi bawahannya dan mengkader pemimpin baru yang lebih baik.
            Gaya kepemimpinan spiritual tidak apriori dan menolak gaya kepemimpinan lainnya seperti kepemimpinan transaksional dan kepemimpinan transformasional, melainkan bersifat menyempurnakan. Penyempurnaan itu terutama atas tiga hal: pertama, landasan epistemologi (teori ilmiah) kepemimpinan bersumber dari nilai-nilai etis (etika riligius) yang diderivasi dari nilai-nilai ketuhanan. Dengan kata lain, kepemimpinan spiritual adalah kepemimpinan dalam nama Allah (bismillah). Maka rujukan etik sebagai landasan perilaku kepemimpinannya bersumber dari sifat-sifat Allah, seperti Ar-Rahman (Maha Pengasih), Ar-Rahim (Maha Penyayang), maka seorang pemimpin harus menebarkan sifat kasih dan sayang kepada bawahannya, dst. Kedua, landasan ontologis (hakekat apa yang dikaji) adalah bahwa kepemimpinan itu amanah dari Allah dan akan dipertanggung jawabkan di hadapan-Nya kelak. Dan ketiga, landasan aksiologis (segi kemanfaatan) adalah bahwa kepemimpinan itu untuk amar ma’ruf nahi munkar dengan kekuasaan (man raa minkum munkaran al yughayyirhu biyadih), memberdayakan (empowering) umat yang dipimpin, mencerahkan pikiran (aqlus-salim), membersihkan hati (qalbun-salim), pemenangan hati nurani (qalbun-munib), dan pembebasan jiwa (nafsul-muthmainnah) menuju kehidupan yang lebih baik dan mencapai ridha Allah SWT.

   IV.            KEPEMIMPINAN TRANSAKSIONAL DAN KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL
1. Kepemimpinan Transaksional
a.Pengertian
            Model kepemimpinan yang terjadi ketika pola relasi antara pemimpindengan konstituen, maupun antara pemimpin dengan elit politiklainnya dilandasi oleh semangat pertukaran kepentingan ekonomi ataupolitik untuk memelihara atau melanjutkan status quo(Burns 1978)
Menurut Bycio dkk. (1995) serta Koh dkk. (1995),
            Kepemimpinantransaksional adalah gaya kepemimpinan di mana seorang pemimpinmenfokuskan perhatiannya pada transaksi interpersonal antarapemimpin dengan karyawan yang melibatkan hubungan pertukaran.Pertukaran tersebut didasarkan pada kesepakatan mengenai klasifikasisasaran, standar kerja, penugasan kerja, dan penghargaan.-Dari pengertian tersebut secara sederhana Kepemimpinan Transaksional dapat diartikan sebagai cara yang digunakan seorangpemimpin dalam menggerakkan anggotanya dengan menawarkanimbalan/akibat terhadap setiap kontribusi yang diberikan olehanggota kepada organisasi.
Ø  Karakteristik Kepemimpinan Transaksional
-   Pengadaan Imbalan
 pemimpin menggunakan serangkaian imbalanuntuk memotivasi para anggota, Imbalannya berupa kebutuhan tingkatfisiologis (maslow).-
-   Eksepsi/pengecualian
dimana pemimpin akan memberi tindakankoreksi atau pembatalan imbalan atau sanksi apabila anggota gagalmencapai sasaran prestasi yang ditetapkanc.
Ø  Karakteristik Pemimpin Transaksionalis
-   Mengetahui keinginan bawahan-Terampil
-   Memberikan imbalan atau janji yang tepat-Responsif terhadap kepentingan bawahan
Ø  Kondisi yang dianggap pas dalam menerapkan KepemimpinanTransaksional
-   Internal
·                     Struktur Organisasi (mekanistik, peraturan, prosedur jelas,sentralisasi tinggi)
·                     Teknologi Organisasi (teknologi proses, kontinue, mass-production)
·                     Sumber kekuasan & pola hubungan anggota organisasi (sumberkekuasaaan di dalam struktur, hubungan formal)
·                     Tipe kelompok kerja(kerja tim, sifat pekerjaan umumnyaengineering/teknis)
-   Eksternal
·                     Struktur lingkungan luar(baik, norma kuat, status quo)
·                     Kondisi perubahan (lambat, tidakstabil, ketidakpastian rendah)
·                     Kondisi pasar( stabil)
·                     Pola hubungan kepemimpinan (orangtua/pimpinan sebagai:pengawas, pengontrol, tidak ada hubungan emosional yang kental)

Ø  Illustrasi dan Contoh Kasus
            Seorang walikota dari sebuah kota terkotor di dunia yang letaknyaberada di salah satu Negara amerika latin, berhasil mengubahnegaranya menjadi negara terbersih di dunia dengan melarangpembelian sayur kecuali dengan menukarnya dengan sampah. Jadimasyarakat akan diberikan sayur – yang merupakan salah satumakanan pokok mereka- hanya bila mereka membawa sampah ketempat pembuangan yang telah ditentukan pemerintah, di sanamasyarakat kemudian dapat menukar sampah tersebut dengan sayur
2.Kepemimpinan Transformasional
            Kepemimpinan Transformasional adalah kepemimpinan yang membawaorganisasi pada sebuah tujuan baru yang lebih besar dan belumpernah dicapai sebelumnya dengan memberikan kekuatan mental dankeyakinan kepada para anggota agar mereka bergerak secara sungguh-sungguh menuju tujuan bersama tersebut dengan mengesampingkan kepentingan/keadaan personalnya.
Ø  Karakteristik Kepemimpinan Transformasional
  • Adanya pemberian wawasan serta penyadaran akan misi,membangkitkan kebanggaan, serta menumbuhkan sikap hormat dankepercayaan pada para bawahannya (Idealized Influence -Charisma)
  • Adanya proses menumbuhkan ekspektasi yang tinggi melaluipemanfaatan simbol-simbol untuk memfokuskan usaha danmengkomunikasikan tujuan-tujuan penting dengan cara yang sederhana(Inspirational Motivation)
  • Adanya usaha meningkatkan intelegensia, rasionalitas, danpemecahan masalah secara seksama (Intellectual Stimulation),
  • Pemimpin memberikan perhatian, membina, membimbing, danmelatih setiap orang secara khusus dan pribadi (IndividualizedConsideration).
Ø  Karakteristik Pemimpin Transformasionalis
  • Kharismatik
  • Inspiratif dan motivatif
  • Percaya diri
  • Mampu berkomunikasi dengan baik
  • Visioner
  • Memiliki idealisme yang tinggi
Ø  Kondisi yang dianggap pas dalam menerapkan KepemimpinanTransaksional
-   Eksternal
  1. Struktur lingkungan luar (ada tekanan terhadap situasi,ketidakpuasan masyarakat)
  2. Kondisi perubahan (berubah cepat, bergejolak, ketidakpastian)
  3. Kondisi pasar (sering terjadi perubahan dan tak stabil)
  4. Pola hubungan kepemimpinan (pemimpin sebagai orang tua yangmembimbing ke pencapaian tujuan, hubungan emosional dengananggota kental dan dekat)
-   Internal
  1. Struktur Organisasi (organik, prosedur adaptif, otoritas tidak jelas,desentralisasi)
  2. Teknologi Organisasi (teknologi batch/satu kali pengerjaan)
  3. Sumber kekuasan & pola hubungan anggota organisasi (sumberkekuasaan penguasaan informasi, hubungan informal)
  4. Tipe kelompok kerja (kerja tim-variatif, sifat pekerjaan umumnyayang memerlukan kreativitas tinggi, craft:keahlian, heuristic:tidakterstruktur, manajemen atas dan menengah)
Ø  Ilustrasi dan Contoh Kasus
            Kepemimpinan ini sering muncul pada situasi-situasi yang monoton danatau terpuruk pada sebuah organisasi. Dimana organisasi menghadapisebuah kondisi yang “luar biasa”. Ilustrasi yang paling mudah dipahamimenurut kami adalah saat seorang pelatih tim sepak bola misalnya, yangakan berhadapan dengan tim yang selama ini dianggap sebagai “raksasa”maka pelatih akan member motivasi dan sistem latihan baru untukmeningkatkan kepercayaan diri dan kekuatan mental dari timnya

Geen opmerkings nie:

Plaas 'n opmerking