I.
TEORI
KISI KEPEMIMPINAN (BLAKE DAN MOUTON)
Kisi ini berasal dari hal-hal yang
mendasari perhatian manajer perhatiannya pada tugas atau pada hal-hal yang
telah direncanakan untuk diselesaikan organisasi, dan perhatian kepada
orang-orang dan unsure-unsur organisasi yang memengaruhi mereka. Kisi ini
menggambarkan bagaimana perhatian pemimpin pada tugas dan pada manusia
berkelindan sehingga menciptakan gaya pengelolaan dan kepemimpinan. Kelima
jenis gaya ekstrim yang dikemukakan model kisi disajikan secara singgat sebagai
berikut :
a) Gaya
pengalah (impoverished style). Gaya ini ditandai oleh kurangnya perhatian
terhadap produksi. Bila terjadi konflik, pemimpin jenis ini tetap netral dan
berdiri di luar masalah.
b) Gaya
pemimpin pertengahan (middle-of-the-road style). Gaya ini ditandai oleh
perhatian yang seimbang terhadap produksi dan manusia. Pemimpin dengan gaya ini
berusaha untuk jujur tetapi tegas dan mencari pemecahan yang tidak memihak dan
berusaha untuk mempertahankan keadaan tetap baik.
c) Gaya
tim (team style). Gaya ini ditandai oleh perhatian yang tinggi terhadap tugas
dan manusia. Pemimpin tim amat menghargai keputusan yang logis dan kreatif
sebagai hasil dari pengertian dan kesepakatan anggota organisasi. Bila terjadi
konflik, pemimpin tim mencoba memeriksa alasan-alasan timbulnya perbedaan dan
mencari penyebab utamanya. Pemimpin tim mampu menunjukkan kebutuhan akan saling
mempercayai dan saling menghargai di antara sesama anggota tim, juga menghargai
pekerjaan.
d) Gaya
santai (country club style). Gaya ini ditandai oleh rendahnya perhatian
terhadap tugas dan perhatian yang tinggi terhadap manusia. Ia menghindari
terjadinya konflik, tapi bila ini tidak dapat dihindari, ia mencoba untuk
melunakkan perasaan orang, dan menjaga agar mereka tetap bekerja sama. Pemimpin
ini lebih banyak bersikap menolong daripada memimpin.
e) Gaya
kerja (task style). Gaya ini ditandai oleh perhatian yang tinggi terhadap
pelaksanaan kerja tetapi amat kurang memperhatikan manusianya. Bila timbul
konflik, pemimpin jenis ini cenderung menghentikannya atau memenangkan
posisinya dengan cara membela diri, bekerja pada pendiriannya, atau mengulangi
konflik dengan sejumlah argumentasi baru.
Menurut Blake dan Mouton, gaya tim
merupakan gaya kepemimpinan yang paling disukai. Kepemimpinan gaya tim berasumsi
bahwa orang akan menghasilkan sesuatu yang terbaik bilamana mereka memperoleh
kesempatan untuk melakukan pekerjaan yang berarti. Serta melibatkan anggota
organisasi dalam pengambilan ke[putusan, dengan maksud mempergunakan kemampuan
mereka untuk memperoleh hasil terbaik yang mungkin dicapai.
II.
TEORI
KONTINUM (TANNEMBAUM DAN SCHMIDT)
Tannenbaum dan Schmidt (1957)
meneliti pengambilan keputusan sebagai konsep utama dalam kontinum perilaku
kepemimpinan mereka. Ada tujuh butir yang menunjukkan sifat manajer-pemimpin
mulai dari mereka yang mempertahankan tingkat pengendalian ketat sampai mereka
yang melepaskan kendali pada bawahan. Kontinum tersebut dapat dijelaskan
sebagai berikut :
- Manajer
membuat keputusan dan mengumumkannya
- Manajer
membuat keputusan dan menawarkannya
- Manajer
mengemukakan keputusannya dan memberi kesempatan untuk mempertanyakan
- Manajer
mengemukakan keputusan sementara, yang masih dapat diubah
- Manajer
menentukan beberapa batasan dan meminta bawahan untuk membuat keputusan
- Manajer
mengizinkan bawahan membuat keputusan
Pemimpin
yang paling efektif adalah emreka yang mempunyai gaya yang konsisten, sesuai
dengan tuntutan situasi.
III.
KEPEMIMPINA
SPRITUAL
Menurut Dr. Tobroni dalam “The
Spiritual Leadership,…” (2005), adalah kepemimpinan yang membawa dimensi
keduniawian kepada dimensi keilahian. Tuhan adalah pemimpin sejati yang
mengilhami, mempengaruhi, melayani dan menggerakkan hati nurani hamba-Nya
dengan sangat bijaksana melalu pendekatan etis dan keteladanan. Karena itu
kepemimpinan spiritual disebut juga kepemimpinan yang berdasarkan etika
religius dan kecerdasan spiritual, mendasarkan pada iman dan hati nurani.
Ada dua model kepemimpinan spiritual
yaitu kepemimpinan spiritual substantif dan kepemimpinan spiritual
instrumental.
- kepemimpinan
spiritual substantif, yaitu kepemimpinan spiritual yang lahir dari
penghayatan spiritual sang pemimpin dan kedekatan pemimpin dengan realitas
Ilahi dan dunia Ruh. Model kepemimpinan spiritualnya muncul dengan
sendirinya dan menyatu dalam kepribadian dan perilaku kesehariannya dan karena
itu bersifat tetap.
- kepemimpinan spiritual instrumental,
yaitu kepemimpinan spiritual yang dipelajari dan kemudian dijadikan gaya
kepemimpinannya. Gaya kepemimpinan spiritualnya muncul karena tuntutan
eksternal dan menjadi alat atau media untuk mengefekifkan perilaku
kepemimpinannya. Gaya kepemimpinan spiritual instrumental bersifat tidak
abadi dan sekiranya konteks kepemimpinannya berubah, maka gaya
kepemimpinannya bisa jadi berubah pula. Gaya kepemimpinan ini bisa juga muncul
sebagai salah satu cara untuk mengatasi permasalahan baik permasalahan
internal sang pemimpin itu sendiri maupun permasalahan eksternal.
Gaya kepemimpinan spiritual tidak
hanya cocok diterapkan pada nobel industry (industri pengemban misi mulia),
seperti lembaga-lembaga sosial non profit: sekolah, rumah sakit, masjid, LSM,
ormas, dsb., tetapi juga cocok untuk diterapkan di lembaga-lembaga bisnis.
Belakangan ini banyak pakar menulis, bahwa aspek spiritual menjadi penyumbang
terbesar keberhasilan seseorang dalam hidupnya, termasuk di dalamnya kecerdasan
spiritual (SQ), yang menurut Danah Zohar dan Ian Marshall (SQ: Spiritual
Intelligence, the Ultimate Intelligence, 2000), memiliki andil 80 % dalam
kesuksesan karir seseorang; dan kepemimpinan spiritual, yang menurut hasil
penelitian Ian Percy (Going Deep: Exploring Spirituality in Life and
Leadership, 2003), para direktur dan Chief of Excutive Officer (CEO) yang
efektif dalam hidup dan kepemimpinannya memiliki spiritualitas yang tinggi dan
menerapkan gaya kepemimpinan spiritual.
Gaya kepemimpinan spiritual dalam
membangun budaya organisasi dapat dilakukan dengan empat langkah:
1) niat
yang suci, yaitu membangun kualitas batin yang prima dalam memimpin. Dengan
kualitas batin yang prima, komunitas organisasi akan memiliki perhatian penuh
dan istiqomah dalam berkhidmat pada tugas masing-masing.
2) mengembangkan
budaya kualitas dengan cara membangun keyakinan inti (core believe) dan nilai
inti (core values) kepada komunitas organisasi bahwa hidup dan kerja hakekatnya
adalah idadah kepada Allah, maka harus dilakukan dengan sebaik-baiknya (ahsanu
‘amala).
3) mengembangkan
persaudaraan (ukhhuwah) sesama anggota komunitas, sehingga kerjasama, sinergi
antar individu dan kelompok/unit dalam organisasi dapat tercipta untuk memberdayakan
potensi dan kekuatan secara maksimal.
4) mengembangkan
perilaku etis (akhlaqul karimah) dalam bekerja melalui pembudayaan rasa syukur
dan sabar dalam mengemban amanah.
Untuk
mengefektifkan proses organisasi dapat dilakukan dengan pendekatan etis, pemakai
gaya kepemimpinan spiritual harus menjadi:
a) murabbi
(penggembala) dalam mengembangkan kepemimpinan dan tanggung jawab
b) penjernih
dan pengilham dalam proses komunikasi dan inovasi
c) ta’mir
(pemakmur) dalam mensejahterakan bawahannya;
d) enterpreneur
dalam kiat-kiatnya mengembangkan usaha;
e) pemberdaya
dalam mengembangkan kepemimpinan bagi bawahannya dan mengkader pemimpin baru
yang lebih baik.
Gaya kepemimpinan spiritual tidak
apriori dan menolak gaya kepemimpinan lainnya seperti kepemimpinan transaksional
dan kepemimpinan transformasional, melainkan bersifat menyempurnakan.
Penyempurnaan itu terutama atas tiga hal: pertama, landasan epistemologi (teori
ilmiah) kepemimpinan bersumber dari nilai-nilai etis (etika riligius) yang
diderivasi dari nilai-nilai ketuhanan. Dengan kata lain, kepemimpinan spiritual
adalah kepemimpinan dalam nama Allah (bismillah). Maka rujukan etik sebagai
landasan perilaku kepemimpinannya bersumber dari sifat-sifat Allah, seperti
Ar-Rahman (Maha Pengasih), Ar-Rahim (Maha Penyayang), maka seorang pemimpin
harus menebarkan sifat kasih dan sayang kepada bawahannya, dst. Kedua, landasan
ontologis (hakekat apa yang dikaji) adalah bahwa kepemimpinan itu amanah dari
Allah dan akan dipertanggung jawabkan di hadapan-Nya kelak. Dan ketiga, landasan
aksiologis (segi kemanfaatan) adalah bahwa kepemimpinan itu untuk amar ma’ruf
nahi munkar dengan kekuasaan (man raa minkum munkaran al yughayyirhu biyadih),
memberdayakan (empowering) umat yang dipimpin, mencerahkan pikiran
(aqlus-salim), membersihkan hati (qalbun-salim), pemenangan hati nurani
(qalbun-munib), dan pembebasan jiwa (nafsul-muthmainnah) menuju kehidupan yang
lebih baik dan mencapai ridha Allah SWT.
IV.
KEPEMIMPINAN
TRANSAKSIONAL DAN KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL
1. Kepemimpinan Transaksional
a.Pengertian
Model kepemimpinan yang terjadi
ketika pola relasi antara pemimpindengan konstituen, maupun antara pemimpin
dengan elit politiklainnya dilandasi oleh semangat pertukaran kepentingan
ekonomi ataupolitik untuk memelihara atau melanjutkan status quo(Burns 1978)
Menurut Bycio dkk. (1995) serta Koh
dkk. (1995),
Kepemimpinantransaksional adalah
gaya kepemimpinan di mana seorang pemimpinmenfokuskan perhatiannya pada
transaksi interpersonal antarapemimpin dengan karyawan yang melibatkan hubungan
pertukaran.Pertukaran tersebut didasarkan pada kesepakatan mengenai
klasifikasisasaran, standar kerja, penugasan kerja, dan penghargaan.-Dari
pengertian tersebut secara sederhana Kepemimpinan Transaksional dapat diartikan
sebagai cara yang digunakan seorangpemimpin dalam menggerakkan anggotanya
dengan menawarkanimbalan/akibat terhadap setiap kontribusi yang diberikan
olehanggota kepada organisasi.
Ø Karakteristik Kepemimpinan
Transaksional
-
Pengadaan Imbalan
pemimpin menggunakan serangkaian imbalanuntuk
memotivasi para anggota, Imbalannya berupa kebutuhan tingkatfisiologis
(maslow).-
-
Eksepsi/pengecualian
dimana
pemimpin akan memberi tindakankoreksi atau pembatalan imbalan atau sanksi
apabila anggota gagalmencapai sasaran prestasi yang ditetapkanc.
Ø Karakteristik
Pemimpin Transaksionalis
-
Mengetahui keinginan bawahan-Terampil
-
Memberikan imbalan atau janji yang
tepat-Responsif terhadap kepentingan bawahan
Ø Kondisi
yang dianggap pas dalam menerapkan KepemimpinanTransaksional
-
Internal
·
Struktur Organisasi (mekanistik, peraturan,
prosedur jelas,sentralisasi tinggi)
·
Teknologi Organisasi (teknologi proses,
kontinue, mass-production)
·
Sumber kekuasan & pola hubungan
anggota organisasi (sumberkekuasaaan di dalam struktur, hubungan formal)
·
Tipe kelompok kerja(kerja tim, sifat pekerjaan
umumnyaengineering/teknis)
-
Eksternal
·
Struktur lingkungan luar(baik, norma
kuat, status quo)
·
Kondisi perubahan (lambat, tidakstabil,
ketidakpastian rendah)
·
Kondisi pasar( stabil)
·
Pola hubungan kepemimpinan
(orangtua/pimpinan sebagai:pengawas, pengontrol, tidak ada hubungan emosional
yang kental)
Ø Illustrasi
dan Contoh Kasus
Seorang walikota dari sebuah kota
terkotor di dunia yang letaknyaberada di salah satu Negara amerika latin,
berhasil mengubahnegaranya menjadi negara terbersih di dunia dengan melarangpembelian
sayur kecuali dengan menukarnya dengan sampah. Jadimasyarakat akan diberikan
sayur – yang merupakan salah satumakanan pokok mereka- hanya bila mereka
membawa sampah ketempat pembuangan yang telah ditentukan pemerintah, di
sanamasyarakat kemudian dapat menukar sampah tersebut dengan sayur
2.Kepemimpinan Transformasional
Kepemimpinan Transformasional adalah
kepemimpinan yang membawaorganisasi pada sebuah tujuan baru yang lebih besar dan
belumpernah dicapai sebelumnya dengan memberikan kekuatan mental dankeyakinan
kepada para anggota agar mereka bergerak secara sungguh-sungguh menuju tujuan
bersama tersebut dengan mengesampingkan kepentingan/keadaan personalnya.
Ø Karakteristik
Kepemimpinan Transformasional
- Adanya
pemberian wawasan serta penyadaran akan misi,membangkitkan kebanggaan,
serta menumbuhkan sikap hormat dankepercayaan pada para bawahannya
(Idealized Influence -Charisma)
- Adanya
proses menumbuhkan ekspektasi yang tinggi melaluipemanfaatan simbol-simbol
untuk memfokuskan usaha danmengkomunikasikan tujuan-tujuan penting dengan
cara yang sederhana(Inspirational Motivation)
- Adanya
usaha meningkatkan intelegensia, rasionalitas, danpemecahan masalah secara
seksama (Intellectual Stimulation),
- Pemimpin
memberikan perhatian, membina, membimbing, danmelatih setiap orang secara
khusus dan pribadi (IndividualizedConsideration).
Ø Karakteristik
Pemimpin Transformasionalis
- Kharismatik
- Inspiratif
dan motivatif
- Percaya
diri
- Mampu
berkomunikasi dengan baik
- Visioner
- Memiliki
idealisme yang tinggi
Ø Kondisi
yang dianggap pas dalam menerapkan KepemimpinanTransaksional
-
Eksternal
- Struktur
lingkungan luar (ada tekanan terhadap situasi,ketidakpuasan masyarakat)
- Kondisi
perubahan (berubah cepat, bergejolak, ketidakpastian)
- Kondisi
pasar (sering terjadi perubahan dan tak stabil)
- Pola
hubungan kepemimpinan (pemimpin sebagai orang tua yangmembimbing ke
pencapaian tujuan, hubungan emosional dengananggota kental dan dekat)
-
Internal
- Struktur
Organisasi (organik, prosedur adaptif, otoritas tidak
jelas,desentralisasi)
- Teknologi
Organisasi (teknologi batch/satu kali pengerjaan)
- Sumber
kekuasan & pola hubungan anggota organisasi (sumberkekuasaan
penguasaan informasi, hubungan informal)
- Tipe
kelompok kerja (kerja tim-variatif, sifat pekerjaan umumnyayang memerlukan
kreativitas tinggi, craft:keahlian, heuristic:tidakterstruktur, manajemen
atas dan menengah)
Ø Ilustrasi
dan Contoh Kasus
Kepemimpinan ini sering muncul pada
situasi-situasi yang monoton danatau terpuruk pada sebuah organisasi. Dimana
organisasi menghadapisebuah kondisi yang “luar biasa”. Ilustrasi yang paling
mudah dipahamimenurut kami adalah saat seorang pelatih tim sepak bola misalnya,
yangakan berhadapan dengan tim yang selama ini dianggap sebagai “raksasa”maka
pelatih akan member motivasi dan sistem latihan baru untukmeningkatkan
kepercayaan diri dan kekuatan mental dari timnya